7.08.2014

Pembangunan Piramida di Mesir Menurut Al-Qur'an

Siapa yang belum mengetahui kepopuleran 'ketenaran' piramida di mesir. Bukan rahasia lagi jika bangunan megah peninggalan bangsa mesir kuno yang menyimpan banyak misteri diluar pemahaman manusia bahkan untuk manusia modern saat ini. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari peninggalan bangsa kuno tersebut. Coba saja pikir, bagaimana cara membangun bangunan sebesar piramida dengan keterbatasan teknologi saat itu dibanding zaman modern seperti saat ini. Batu-batu besar yang digunakan serta cara memindahkannya.
Pembangunan Piramida di Mesir Menurut Al-Qur'an
By MONNIER Franck (Karya sendiri) [Public domain], via Wikimedia Commons
Pertanyaan umum yang biasa kita dapati adalah bagaimana bangsa mesir kuno mengangkat batu-batu besar ke puncak piramida. Untuk itu pada postingan kali ini saya akan memberikan sedikit informasi mengenai keajaiban dunia islam yang akan menjawab pertanyaan tersebut. Keajaiban terbesar umat islam adalah Al Qur’an. “Lantas apa kaitannya dengan piramida di mesir?”. Subhanallah, Allah telah benar-benar menunjukan bahwa Al Qur’an merupakan firmannya yang memberi petunjuk. Pembangunan piramida di mesir sudah dikabarkan dalam kitab umat islam "Al Qur’an" jauh sebelum para peneliti melakukan penelitian piramida di mesir.

Sebelum merujuk kepada Al Qur’an, sebaiknya kita akan membahas terlebih dahulu dari segi ilmiah, sebab para skeptis Al Qur’an lebih bisa menerima ini. Telah sejak lama para ilmuwan dibuat bingung tentang bagaimana sebuah Piramida dibangun. Berbagai teori spekulasi dikemukakan mengenai hal ini. Wajar saja, jika di pikir teknologi apa yang mereka gunakan untuk mengangkat batuan-batuan besar yang beratnya ribuan kilogram ke atas piramida. Apakah sudah ada teknologi yang memungkinkan hal tersebut pada waktu itu? Tentu saja belum. Pada waktu itu belum ada teknologi yang memungkinkan mereka mengangkat batu dengan berat ribuan kilogram sampai puncak piramida. 

Namun lain halnya jika bangsa mesir kuno tidak mengangkatnya melainkan membuatnya. Bagaimana jika bangsa mesir kuno tidak mengangkat batu tapi membuatnya saat berada di atas? Jika demikian, lantas bagaimana cara bangsa mesir kuno membuatnya? Saat ini kita simak hasil penelitian mengenai hal ini.
Great Sphinx of Giza (foreground) Pyramid of Menkaure (background). Cairo, Egypt, North Africa
By Mstyslav Chernov (Self-photographed, http://mstyslav-chernov.com/) [CC-BY-SA-3.0], via Wikimedia Commons
Harian Amerika Times edisi (01/12/2006) menerbitkan sebuah berita yang mengkonfirmasi bahwa fir’aun menggunakan tanah liat dalam pembangunan piramida di mesir. Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa batu yang digunakan dalam pembuatan piramida berasal dari tanah liat yang dipanaskan sehingga membentuk seperti batuan yang keras dan susah dibedakan antara batuan alam dan buatan. Piramida giza yang merupakan piramida terbesar di mesir ditemukan fakta bahwa bangsa mesir kuno menggunakan dua jenis batuan yang pertama batuan alam sebagai pondasi dan batuan buatan sebagai pembentuk atas. 

Penjelasan mengenai batuan buatan ini memang lebih masuk akal melihat fakta bahwa fir’aun adalah seorang yang ahli di bidang kimia. Lihat saja mumi yang bisa bertahan ribuan tahun tanpa membusuk. Ya, tentu saja batuan buatan ini bukanlah sebuah dugaan belaka karena hal ini juga dibuktikan melalui penelitian oleh para ilmuwan. Memang secara kasat mata sangat sulit untuk membedakan mana batuan alam asli dan buatan. Namun apabila diamati melalui mikroskop elektron hasilnya akan berbeda. Seperti yang dilakukan oleh Profesor Davidovits, beliau telah mengambil sampel batu penyusun terbesar piramida dan mengamatinya dengan mikroskop elektron. 

Hasilnya adalah Profesor Davidovits menegaskan bahwa batu tersebut terbuat dari lumpur. Selama ini, tanpa penggunaan mikroskop elektron, para ahli geologi belum mampu membedakan antara batu alam dengan batu buatan manusia. Campuran lumpur kapur dan material lain dengan komposisi yang sudah diatur dipanaskan dengan air garam. Proses ini akan menghasilkan terbentuknya campuran tanah liat yang kemudian dituangkan ke dalam wadah yang sudah disediakan pada dinding Piramida. Banyak pula para peneliti yang menyatakan hal serupa dan meyakini bahwa batuan piramida terbuat dari tanah liat diantaranya adalah Guy Demortier dari Belgia, ada pula beberapa ilmuwan prancis.

Sementara dailymail.co.uk juga pernah memberitakan tentang misteri pembangunan piramida di Mesir. Dilaporkan bahwa, para ahli mengatakan kalau kunci utama pekerja Mesir kuno dalam membangun piramida terletak pada pasir basah. Namun jauh sebelumnya, peneliti memang dibingungkan tentang cara pekerja Mesir kuno untuk mengangkut batu dan patung besar melintasi gurun yang sangat luas untuk membangun piramida. 

Ternyata, mereka hanya menerapkan cara sederhana yang dapat mengangkut benda berat dengan sangat mudah. Diperkirakan, mereka menempatkan benda berat tersebut pada sebuah kereta luncur di pasir gurun yang sebelumnya telah dibasahi terlebih dahulu dengan air. Pada saat pasir gurun menjadi lembab, tentunya pasir tersebut menjadi lebih kaku jika dibandingkan saat dalam kondisi kering. Peneliti dari Universitas Amsterdam, Belanda mengungkapkan kelembaban pasir yang tepat dapat menghasilkan pasir yang lebih padat dan rata.

“Dengan perpaduan air yang tepat, pasir gurun menjadi lebih kaku dari pasir kering. Kereta luncur dapat meluncur jauh lebih mudah dan cepat karena pasir tidak akan menumpuk di depan kereta luncur sebagaimana yang terjadi saat pasir dalam kondisi kering,” tutur salah seorang tim peneliti seperti yang telah diberitakan oleh Daily Mail, (01/04).

Adapun hasil penelitian ini telah digunakan sebagai inspirasi bagi para ahli agar bisa diterapkan pada transportasi di masa kini sebagai upaya penghematan konsumsi bahan bakar dari minyak bumi yang semakin hari kian menipis.

Pada akhirnya misteri dibalik cara pembangunan Piramida pun terpecahkan oleh para ilmuan dan peneliti setelah bertahun-tahun lamanya melakukan riset yang mendalam. Akan tetapi, fakta bahwa tanah liat sebagai material pembentuk piramida ternyata sudah terlebih dahulu dikabarkan dalam Al Qur’an 1400 tahun yang lalu.

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ

“Dan berkata Fir’aun: ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa Dia dari orang-orang pendusta.” (QS. Al-Qashash' 28:38)

Seperti yang kita ketahui bahwa Nabi Muhammad S.A.W tidak pernah pergi ke mesir atau bahkan mendengar tentang piramida di mesir. Namun ayat di atas telah menjelaskan fakta bahwa pembuatan piramida di mesir menggunakan tanah liat yang dipanaskan sebagai pembentuknya. Jadi, semakin jelaslah bahwa Al qur’an adalah keajaiban terbesar yang dimiliki oleh umat islam. Selain itu Al Qur’an ialah bukti nyata kenabian nabi muhammad S.A.W dan petunjuk tanpa keraguan yang diberikan Allah demi keselamatan umat manusia, dan di dalam Al Qur'an terdapat banyak kabar berita dan pengetahuan yang diberikan Allah untuk kita ambil hikmahnya.

No comments:

Post a Comment